Tuesday, 12 April 2016

Ketika Guru Dijadikan Bermental Pegawai

Mental seseorang terbangun dari pekerjaan atau statusnya sehari-hari. Seorang petani akan bermental petani. Sehari-hari oleh karena pekerjaannya adalah mengurus tanaman yang harus serba menunggu, yaitu menunggu musim tanam, menyiangi, waktu memupuk, memanen, maka akan berbeda dengan profesi lain misalnya berdagang. Pekerjaan seorang pedagang penuh dengan kompetisi, yaitu mulai dari mencari dan memilih dagangan, menjual, dan kemudian mencari dagangan lagi. Antara mental petani dan pedagang menjadi berbeda.

Lain lagi adalah mental pegawai. Oleh karena pekerjaan mereka sehari-hari harus menyesuaikan dengan petunjuk orang lain, ialah para atasannya, maka mereka akan selalu menunggu perintah. Hasil dari apa yang dikerjakan tidak dirasakan sebagai miliknya sendiri. Mereka merasa hanya sebagai pekerja. Bagi mereka yang penting adalah sudah bekerja sesuai dengan SOP yang dibebankan. Prestasi mereka diukur dari target atau ukuran tertentu, dan biasanya hanya dilihat dari sisi fisiknya. Sementara itu, aspek substansinya tidak selalu menjadi perhatian.

Mental pegawai sebagaimana digambarkan tersebut adalah dianggap lazim, karena mereka bekerja di pabrik atau di perusahaan, yang hanya bersentuhan dengan barang mati. Jenis pekerjaan mereka bisa diatur dan dijalankan secara mekanis. Ukuran-ukuran keberhasilan atas jenis pekerjaan itu juga bisa dihitung dengan angka atau dengan ukuran tertentu. Tetapi hal itu akan berbeda jika yang dikerjakan terkait dengan orang, seorang guru misalnya. Pekerjaan para guru tidak bisa ditarget, misalnya sehari bisa memintarkan atau menjadikan orang baik dalam jumlah tertentu.

Sekedar mengajarkan bahan pelajaran tertentu dalam waktu tertentu, bagi seorang guru mungkin saja hasilnya masih bisa dihitung atau dikuantifikasikan, sekalipun juga tidak menjamin bahwa hal itu benar-benar sebagaimana yang diinginkan. Pekerjaan guru sangat berbeda dari pekerjaan pegawai atau apalagi sebagai buruh di pabrik atau di perusahaan. Pekerjaan guru selain mengajar seharusnya adalah sekaligus sebagai pemimpin, yaitu memimpin para muridnya belajar agar kelak menjadi orang pintar, cerdas, berwawasan luas, dan juga sebagai orang baik. Sebaliknya manakala guru dilihat sekedar sebagai pegawai atau buruh, maka mental guru akan berubah menjadi bermental pegawai dimaksud.

Jika pegawai atau buruh harus diawasi secara ketat, harus melapor tentang pencapaian target yang dikerjakan, mementingkan aspek fisik dibanding substansi yang seharusnya dikerjakan, maka guru yang dianggap sebagai pegawai atau buruh juga akan melakukan hal itu. Akhirnya guru yang diperlakukan sebagai pegawai atau buruh akan bermental pegawai dan buruh pula. Mereka bekerja hanya atas dasar petunjuk atasan. Selain itu kreatifitas mereka menjadi tidak tumbuh sebagaimana dituntut sebagai orang yang bermental guru. Manakala guru bermental pegawai, maka orientasi mereka juga bekerja sekedar untuk memenuhi laporan, target, dan perintah, bahkan bisa jadi hanya sebatas formalitas.

Mental guru sebagai pemimpin seharusnya ditumbuhkan secara terus menerus. Sebagai pemimpin harus diberi ruang untuk berkreasi, kepercayaan, kemandirian, kebebasan yang bertanggung jawab. Sebagai pemimpin, guru tidak perlu terlalu diatur hingga detail. Lagi-lagi, guru juga bukan mandor. Guru sebagai pemimpin di sekolah harus menjadi tauladan, inspirator, dan bagian dari lingkungan yang mempengaruhi terhadap para siswanya. Selain itu, guru juga bukan sebagai mandor terhadap kerja para siswanya di dalam belajar.

Manakala guru diperlakukan sebagai pegawai dan apalagi buruh, maka resikonya amat tinggi. Mereka hanya akan mengerjakan pekerjaannya sebatas formalitas, mekanis, dan tidak terlalu merasa bertanggung jawab. Bagi guru yang bermental pegawai, maka pada pikirannya tergambar bahwa yang terpenting adalah telah mengerjakan tugas sesuai dengan petunjuk, target, buku pedoman, kurikulum dan sejenisnya. Jika gambaran tersebut itu yang benar-benar terjadi maka sekolah atau lembaga pendidikan sebenarnya telah kehilangan jiwa atau ruhnya. Sekolah telah berubah menjadi pabrik atau perusahaan. Padahal siapa saja tidak akan mau menyamakan antara keduanya. Wallahu a’lam by: Imam Suprayogo

Mendekatkan Diri Pada Allah Dan Rasul-Nya


Banyak orang mengira bahwa keberuntungan dan kebahagiaan itu berada pada harta yang melimpah. Atas dasar keyakinannya itu, mereka tidak pernah berhenti dan tidak mengenal lelah, segala pikiran dan tenaganya digunakan untuk mencari dan mengumpulkan harta kekayaan hingga kadang sampai melupakan kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri. Hartanya dianggap menjadi segala-galanya. Bahkan, seseorang mau berkorban justru untuk kekayaannya itu.

Selain itu, ada pula orang yang mengira bahwa kunci kebahagiaan dan keberuntungan itu berada di jabatan, pangkat atau kekuasaan. Atas dasar keyakinannya itu, mereka berusaha mengejarnya hingga melalui jalan dan cara apapun ditempuh. Manakala bisa diperoleh dengan uang, maka uangnya dibelanjakan untuk mendapatkan pangkat dan jabatan itu. Manakala pangkat dan jabatan itu bisa diperoleh dengan berbohong, maka dijalanilah kebohongan, manipulasi, dan atau apapun namanya agar keinginannya berhasil diraih.

Sementara orang lainnya menginginkan agar nama dirinya menjadi tenar, kesohor, atau dikenal kalayak luas. Lagi-lagi apapun dilakukan demi kesohorannya itu. Berapapun jumlah biaya yang harus dikeluarkan akan dipenuhi. Berbagai cara ditempuh agar yang bersangkutan dikenal luas. Gambar atau foto-foto dalam berbagai ukuran dipasang atau ditempel di mana-mana, bahkan dipublikasikan melalui surat kabar, televisi, radio, dan lain-lain..

Pertanyaannya adalah, apakah dengan keberhasilan mereka memperoleh kekayaan melimpah, jabatan tinggi, dan namanya menjadi tersohor tersebut lantas benar-benar merasa telah mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan yang sesungguhnya. Jawabnya, mungkin saja sudah. Akan tetapi pada kenyataannya, mereka tampak tidak pernah puas. Keberhasilannya dalam satu tahap mendorong untuk mengejar keberhasilan pada tingkat berikutnya. Tatkala berhasil memiliki rumah dan mobil, segera berusaha menambah dan atau membeli lagi yang lebih besar dan atau bermerk lebih tinggi, dan begitu pula seterusnya.

Kenyataan tersebut, menunjukkan bahwa perasaan beruntung dan bahagian itu sebenarnya tidak pernah diperoleh. Keberuntungan dan kebahagiaan ternyata letaknya bukan pada jumlah kekayaan, pangkat atau jabatan tinggi, dan ketenaran, melainkan berada di hati masing-masing orang. Hati yang tenang, teduh, dan mampu mensyukuri terhadap apa yang ada itulah sebenarnya merupakan keberuntungan dan kebahagiaan sejati. Perasaan yang demikian itu bukan tatkala berhasil memperoleh sesuatu yang bersifat duniawi, melainkan ketika dekat dengan Allah, dan dekat dengan Rasul-Nya.

Akan tetapi tidak berarti bahwa harta, jabatan, dan ketenaran tidak penting. Semuanya adalah perlu dan seharusnya memang dicari. Hanya yang perlu ditata adalah hati atau niat di dalam mencari semua yang dimaksudkan itu. Sebab tanpa harta kekayaan, seseorang tidak mandiri dan atau akan menjadi beban orang lain. Anjuran agar menjadikan kedua tangannya berada di atas tidak bisa diraih. Demikian pula kekuasaan dan ketenaran diperlukan sebagai media untuk berbuat baik terhadap sesama. Sebaik-baik orang adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat terhadap orang lain. Kekuasaan, jabatan atau pangkat, dan kesohoran bisa digunakan untuk memberi manfaat secara ikhlas kepada sesama.

Mengikuti petunjuk ajaran Islam, misi hidup di dunia ini bukan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, memperoleh jabatan setinggi-tingginya, dan juga bukan agar dikenal luas di tengah masyarakat, melainkan adalah semata-mata untuk beribadah, atau mendekatkan diri pada Allah dan Rasul-Nya. Siapapun yang selalu berusaha melakukan hal itu, maka insya Allah akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan sejati. Kedekatan itu di antaranya diperoleh melalui cara sederhana, yaitu bersabar dan shalat secara khusu’. Wallahu a’lam by: Imam Suprayogo